Kabar Terbaru > Sumpah Gajah Mada di Jalan Kaliurang

Sumpah Gajah Mada di Jalan Kaliurang

Seorang pengamen paruh baya, berbekal gitar dan harmonika, dalam balutan kemeja dan celana jeans bersepatu kets menghampiri sebuah tempat makan di sudut jalan Kaliurang dan melantunkan lagu lama dari The Beatles :

Yesterday, all my troubles seemed so far away.
Now it looks as though they’re here to stay.
Oh, I believe in yesterday.

Suddenly, I’m not half the man i used to be,
There’s a shadow hanging over me,
Oh, yesterday came suddenly…

Lagu yang sendu, tentang ratapan seorang pria, ah lupakanlah hati galau karena jalan Kaliurang kini tak menawarkan risau hati, cobalah tengok di sekujur jalanan siang dan malam berjejer tempat makan yang bikin hati nyaman dan perut kenyang, bahkan suasana kosmopolitan mulai tampak berkilau disini, bukan ditandai lanskap arsitektural yang menjulang tapi sajian dari brand internasional hingga menu nusantara yang selalu memanggil pengunjung untuk singgah.

Monalisa, siapa tak kenal dia, cuma maaf disini menjadi sebuah brand makanan cepat saji, burger. Saat burger belum mewabah si nona ini sudah bertengger semenjak 1988 di lokasi yang masih ditempatinya hingga saat ini di depan bank Mandiri km 1, jika menilik kurun waktu, burger Monalisa telah menemani beberapa generasi dan berjuta memori warga maupun alumni Jogja dalam sekepal gizi dan sekelebat kunyahan yang berarti. Lembutnya roti dan gurihnya daging yang diolah sendiri menjadi kunci dari sebuah pergerakan konsistensi yang begitu cepat, as fast food as you go.

Ke selatan, masih sebaris dengan Monalisa Burger, ada sate padang “Salero” warung yang berdiri semenjak 1992 ini menawarkan irisan daging, lidah dan hati sapi yang empuk berkuah bumbu yang khas padang, pedas dan kaya rempah.

Sejurus ke utara maka gegap gempita akan kita temukan setelah lampu merah di seputaran sisi barat dari Graha Saba, tampak warung tenda menghadang mata pelintas tiada putus, dari sambel-sambelan hingga propaganda Jepang.

Tora-tora, kata sandi invasi Jepang atas pangkalan militer Pearl Harbour, Hawai, 7 Desember 1941 yang memicu aksi balasan yang tak kalah mencengangkan. Kata repetisi dari bahasa Jepang yang berarti harimau ini bisa jadi bukan bermaksud membuka luka lama akan tetapi mengambil semangat untuk berbisnis makanan, mungkin juga karena penggunaan kata yang mudah diingat dan sudah dikenal luas maka warung makan kaki lima ini pun menyajikan makanan ala Jepang. Pengunjungnya dipastikan membludak dan antrian mengular saat jam makan malam tiba. Menunya cukup lengkap untuk kaki lima dan harganya sangat terjangkau, sedangkan rasanya cukuplah untuk mengenal budaya jepang dari warung ini, meski berbahan baku lokal tapi beberapa hal tetap menganut kaidah yang baku dan beberapa hal yang tak kalah penting diakomodasikan bagi warga Jogja, yaitu menyertakan semangkok nasi putih yang penuh, jadi tak hanya bergaya Jepang tapi kenyang adalah hal yang tak boleh dikesampingkan.

Lepas dari invasi Jepang berpacu dengan jasa layanan fotokopi dan kedai siap saji Rempah Asia hadir membawa kesegaran negeri serumpun dalam warung makan yang khas, menguarkan aroma nasi lemak, nasi briani dan aroma rempah yang memikat maka tak heran jika bertandang di sini kita seolah menjadi kosmopolit masyarakat dunia, karena beragamnya pengunjung dan rasa masakannya yang bisa merangkum sekat etnis maupun territorial. Cobalah nasi lemaknya yang pulen, rasanya gurih memikat bercampur bumbu rendang yang lumer di mulut dengan beberapa pilihan lauk sesuai selera, kalau ingin sekedar mengudap tersedia roti cane, lembaran tipis-tipis yang menumpuk, sedikit lembek berasa gurih dengan cocolan kuah kari dipadu dengan teh tarik, niscaya anda tak akan beranjak dari kursi, teh tariknya memang menggoda, dengan rasa teh yang kuat ala teh Kayu Aro Kerinci Sumatra yang bikin pahit beradu kreamer atau susu kental manis menciptakan kualitas tiada banding.

 

Jika malam adalah surga makan, akankah siang senyap tanpa hingar bingar kuliner yang asyik di jalan Kaliurang?

Keriuhan pasar Kolombo pagi hari di km 7, saat transaksi dan tawar-menawar menjadi kewajiban maka bersantap pagi di warung soto pak Syamsul adalah selingan yang menyegarkan, jauh-jauh mengusung soto Surabaya dengan aneka gorengan dari sumsum, otak, hingga tempe terhidang bersama dengan semangkok soto yang panas kemebul dengan irisan daging sapi, seakan tak ada tawar menawar yang perlu dilakukan di warung ini, apalagi visual kita disuguhi pikulan soto yang masih original berbentuk pelanduk panjang, maka mafhum kita mengamini setiap sendok soto dan aneka rupa lauknya dengan khidmat keenakan.

Di belakang MM UGM, sedikit masuk gang saat siang yang terik ada hal menarik di warung yang buka hanya siang hari ini, menu rawonnya menggoda, dengan irisan daging yang tebal, kuah pekat dan campuran kaldu daging yang turut serta, ditaburi kecambah segar bercampur sambal trasi, rasanya panas terik bisa lupa saat menyantap menu ini, jika masih kurang kenyang ada kudapan berbentuk es, yaitu es kolak pisang, dijamin kantuk segera menyerang.

Jreng..jreng..jreng…sang pengamen telah menutup lagunya, dalam derap sepenggal jalan yang hidup dan tumbuh mencengangkan di utara Jogja, sebelum pengamen berlalu dia sempat berujar, this is my country, right? Tak tahu apa yang dimaksudkan, mungkin saja dia mengikuti isu yang sedang hangat tentang korupsi dan ketamakan para politisi ataukah dia menyindir para pengunjung warung makan bahwa krisis pangan akan segera hadir, maka itu pula dia bersenandung “Yesterday”nya The Beatles. Ah bukan hal yang tepat rasanya mengkaitkaitkan, mari nikmati saja riuhnya jalan Kaliurang, sepenggal jalan penuh kenangan dan harapan, sepenggal jalan yang mengingatkan akan sumpah mahapatih Gajah Mada yang ingin menyatukan nusantara dalam genggaman, dan kini bukan saja nusantara bahkan peradaban dunia pun tergenggam hadir di sini, meski hanya seporsi menu kaki lima.

Comments