Otentik Jogja > Soto > Soto Kadipiro

Soto Kadipiro

Sang Legenda

Tak usah heran saat mas dan mba ketemu sosialita ibukota di warung soto ini, tak bisa dipungkiri namanya telah harum puluhan tahun dengan konsisten menyuguhkan kelezatan semangkok soto ayam, maka lewat mulut ke mulut legenda soto ini melintas generasi menyapa pelanggan turun temurun.

Membayangkan mbah Karto berjualan di tahun 1921 sungguh tak mudah, jalan masih berebu dan lalu lalang bisa dihitung dengan jari. Untungnya jalan Wates yang semenjak awal dia menetap berjualan adalah jalan poros penghubung arah Purworejo, Kebumen dan Purwokerto yang dikenal daerah subur dan pemasok kebutuhan pangan untuk kota Jogja. Maka iring-iringan gerobak pembawa kebutuhan pokok akan singgah untuk ngiras mampir menikmati semangkok soto sebelum menuju ibu kota Mataram menuntaskan transaksi jual beli.

Dari para pelintas di jalan Wates kabar kelezatan soto rajikan pak Karto pun menyebar luas hingga sepeninggal pak Karto muncul brand soto Kadipiro  di seberang warung lama dan beberapa di lokasi seputaran Jogja yang merupakan pewaris resep dari mbah Karto, meskipun jika mas mba singgah di warung utara jalan Wates itu di dalamnya ada papan bertulis “Soto Kadipiro tidak buka cabang”.

Bangunan dari soto Kadipiro masih berarsitektur gaya lama dengan aksen warna kuning hijau, ruangan tengah yang luas sebagai tempat meja kursi ditata rapi dengan panganan atau hidangan lauk ayam di tengahnya. Ada peyek kacang, emping dan rambak kulit. Adapun lauknya ada tahu tempe bacem dan gorengan ayam kampung. Sedangkan untuk menikmati minuman ada Sarsaparila atau limun bersoda dalam botol sedang bertutup keramik dikawat secara manual. Minuman ala Belanda yang diadopsi disesuaikan lidah Jawa ini cocok disajikan dingin dengan es batu.

Semangkok soto Kadipiro beraroma harum kaldu di hadapan meja mas dan mba ini berkuah bening kekuningan, warna kuning memang dari godogan tulang ayam jawa yang akan menguarkan bau harum dan rasa gurih dicampur bumbu soto hingga rasa yang didapat lebih mantap. Irisan kubis dan taburan daun sledri serta brambang goreng selalu menghias sebagai topping berebut visual dengan potongan daging ayamnya. Jika mas mba terlalu lapar bolehlah minta tambah semangkok lagi seharga Rp. 12.000,-. Karena memang porsi semangkok tak mengenyangkan, kecuali memang cemil-cemil lauk yang terhampar di meja. Atau sedikit sensasi campurkan peyek kacang yang diremuk dengan tangan ke dalam semangkok soto, maka selain mas mba menikmati gurih mantapnya soto juga berbonus kacang yang renyah. Oh iya jika kurang manis mantap bisa ditambahkan kecap cap Sarico, kecap yang spesial dibikin untuk soto Kadipiro ini memang mantap rasanya berpadu dengan kuah soto.

Bisnis masakan khas seperti soto Kadipiro mau tak mau mesti adaptif terhadap perubahan zaman. Selain penataan interior yang rapi bersih, kini tampil beberapa atribut hiasan berupa wejangan atau kata-kata bijak. Selain itu hal yang utama adalah pelayanan yang ramah dan cekatan. Dengan seragam batik karyawan akan bergegas dari menawarkan menu, menyediakan lauk hingga membersihkan meja dalam sekejap. Karena memang pertaruhan pelayanan dan kenikmatan menikmati soto dalam suasana yang nyamanlah tujuan pelanggan datang.

 

Comments