Otentik Jogja > Angkringan Nganggo Suwe Lik Adi

Angkringan Nganggo Suwe Lik Adi

Hidup yang tak sekedar mampir wedangan

Sore hari di perempatan Tegal gendu dan jalan Pramuka Kotagede mulai tampak ramai dengan penjual jamu yang berjajar dengan pembeli para ibu yang menggendong anaknya yang susah makan atau sakit flu, di jajaran penjual jamu itu akan mulai buka sebuah warung yang menempati pas tusuk sate jalan Tegalgendu, warung yang selalu menanti para pelaju Imogiri-Jogja semenjak 40 tahun yang lalu.

Warung angkringan lik Adi dulunya berada di bibir trotoar selayaknya para penjual jamu yang berjajar, namun pada saat pelebaran trotoar maka warung ini surut ke barat, mengubah rumahnya jadi tempat jualan hingga saat ini. Cerita lik Adi awalnya adalah hanya menyediakan wedangan, teh, jahe, asem yang kebanyakan pelanggannya para pedagang pelaju dari Imogiri menuju Jogja dengan gerobak sapi. Berdampingan dengan penjual gudeg yang byar pet waktu bukanya yang angin-anginan maka oleh para pelanggannya diminta untuk menyediakan nasi bungkus dan lauk seadanya agar pelanggan tak kecewa. Maka perkembangan selanjutnya lik Adi dikenal sebagai warung ampiran untuk menyerupuk wedangan dan mengudap makanan dengan beragam lauk bacem maupun goreng yang boleh dibilang seperti sebuah angkringan lengkap.

Ragam makanannya kini mengalahkan ragam minumannya, bila mas mba mampir maka pilihan mengudap hingga makan berat tersedia lengkap, dari nasi bungkus, nasi teri, nasi teri, nasi belut hingga nasi bakar tersedia, adapun lauknya dari puyuh goreng, iso babat, sate keong, sate telur puyuh, sate ayam, sate usus, ati ampela, kepala, paha, gorengan tahu tempe, telor asin, tahu bacem, belut goreng dan aneka peyek dan krupuk yang akan melengkapi. Adapun minum terdapat varian dari teh, jahe dan asem dengan tarif sudah jelas terpampang di papan.

Warung lik adi hampir saban hari menghabiskan 6-15 kilo beras dan 30-50ekor burung puyuh dengan waktu buka dari jam sore pukul 17.00 – 05.00 pagi hari. “dulu burung puyuh semalem bisa sampai 100 ekor, kalau lebaran bisa 200 ekor” jelas mas Sigit, putra ke 4 dari lik Adi yang jaga dari sore hingga tengah malam. Kini meski tak semeriah dulu suasana penikmat burung puyuh tapi warung lik Adi tetap ramai karena selalu menyediakan nasi yang hangat dan wedang yang mantap.

Jika mas mba hendak berombongan datang maka warung berkapasitas 30 orang ini bisa suk sukan sempit yang bahkan untuk nangkring kaki saja repot, tapi untungnya ada tempat lesehan yang biarpun tak luas bisa mengakomodasi keinginan nyandar ke tembok dan berkumpul satu geng.

Lik Jo suka mampir ke warung ini saat tengah malam, meski tak sepi pengunjung, paling tidak tak banyak hingar bingar kendaraan berseliweran, jadi bisa menyesap asem jahe yang cespleng atau teh panas dengan racikan antara the merek Pendawa dan Tang ini lebih kontemplatif, sambil komat kamit melahap puyuh goreng dengan sambel tomatnya yang segar.

 

Comments