Otentik Jogja > Angkringan Lik Man

Angkringan Lik Man

Lik Man

Menemani malam setengah abad di Jogja

Angkringan yang telah turun tiga generasi ini lebih dikenal dengan sebutan angkringan Lik Man, putra dari mbah Karto yang meneruskan sepikul warisan angkringan. Pria yang berasal dari Cawas Klaten ini mengawal warungnya bersama adik perempuan, Lik Semi. Warungnya buka mulai jam tiga sore di Jl. Wongsodirjan nempel di pagar tembok stasiun Tugu. Namun kini jika tak familiar mas mba akan sedikit bingung karena banyaknya warung serupa sepanjang jalan Wongsodirjan, tak kurang dari 9 warung. Untung saja di belakang pikulannya yang mampu menampung semua menu sajian itu terpampang sepanduk banner dengan brand name Kopi Joss Lik Man.

Menunya berupa aneka gorengan dan sate 8 macam: telor puyuh, keong, kerang, usus, ayam, bakso, ati ampela, bakso, kulit. Adapun untuk pilihan nasi bungkusnya masih bersetia dengan tiga pilihan, nasi sambel, nasi teri dan nasi oseng tempe. Ada juga menu bacem kepala ayam dan ceker tersaji sebagai teman lauk nasi bungkus bagi yang suka grogoti. Untuk wedang tetap dengan andalan the nasgitel dengan dua campuran dari merek teh, yaitu merek teh gopek dan Sarawita yang biasanya juga menyediakan jok tuangan tambah hingga ada plesetan versi angkringan, Jogja, jok saja.

Kopi Jos menjadi ikonik dari warung angkringan Lik Man karena memang menumbuhkan sensasi yang bikin kaget, kopi hitam yang diseduh dalam gelas seperti biasanya itu dimasukkan sebongkah arang membara hingga api dan air panas membuncah mengeluarkan suara jos yang panjang. Maka kenapa kopinya dinamakan kopi Jos.

Sore hingga selepas isya adalah waktu yang tepat untuk menikmati wedangan di Lik Man, mas dan mba bisa memesan jadah bakar dan tempe garit sebagai teman wedangnya. Sembari menikmati sunset yang tenggelam di balik stasiun Tugu dan bunyi klakson kereta yang khas. Di stasiun orang berkumpul untuk pergi dan datang, membawa harapan dan kenangan, di warung lik man mas mba bisa menjadi saksi ataupun menjadi bagian dari itu, membuka bungkusan harapan untuk dilahap maupun membakar kenangan untuk dilumat.

Untuk harga wedang teh seharga Rp. 2000,-. Kopi jos Rp. 4000,- nasi Rp. 2000 dengan nilai yang relatif murah, lokasi yang strategis maka tak salah jika kerumunan para pelanggan bisa menyemut dalam bangku meja maupun lesehan saling berjubel. Ditambah tumbuhnya warung di kanan kiri dengan dagangan serupa, tak ayal jalan Wongsodirjan bisa saja berubah menjadi jalan Angkringan Jogja, yang boleh minta”Jok saja”.

 

Comments